Header Ads

SEPENGGAL KISAH KITA DI TEPIAN KAPUAS


Di kafe kamboja  pinggiran sungai kapuas. Setelah  14 hari  kepergian Enni memenuhi panggilan ibadah umroh, akhirnya pada  sore itu  Enni dan Aana bertemu juga. Memang  kedua sahabat ini sering melalui hari bersama, dalam kegiatan apapun  sejak mereka duduk di bangku kuliah bahkan hingga saat ini, ketertarikan mereka yang hampir sama mendekatkan mereka  bahkan lebih dari sahabat. Tak ada yang pernah ditutupi dari persahabatan itu, kejujuran selalu membersamai mereka, meski kadang teringgal luka, tapi ketulusan persahabatan yang lahir  dalam ketulusan membawa mereka untuk tetap utuh, bahkan ketika  Anna dan Enni berada  pada situasi yang memental mereka dengan begitu kerasnya, pada tempat yang sama.
Cukup lama tak bertemu, seharusnya moment itu adalah moment bercerita antara mereka, namun  yang dirasakan  entah apa, Anna hanya memilh untuk banyak diam.  Ada   rasa  yang tak  seperti biasa  antara rindu atau luka yang sepertinya tak  bersekat.  Ketika ia meliahat kearah wajah Enni. Ahh..   Beberapa hari setelah penakuan itu, semua berubah seketika, ya  tak biasa pungkiri pristiwa sengit pun terjadi antara merka berdua,  pristiwa itu mungkin berlalu bersama waktu tapi masih meninggalkan luka di hati Anna yang baru saja ia coba tuk sembuhkan.
Memang mereka tak hanya berdua tapi bertiga bersama Ayu sahabat mereka.   Ayu pula yang mengajak mereka ke kafe dipinggiran kapuas itu, Ayu mencoba mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi dianara kedua sahabanya ini. Tapi setelah pengakuan dari Enni, Ayu sangat mengutuk mengapa semua itu terjadi, ia telah mengingatkan Enni berkali kali untuk menjaga hati tapi masih saja Enni terjerumus da terjatuh pada asmara yang salah.
Pertemuan itu menuliskan  sejuta cerita,  Pengakuan terlarang  disore itu bagai pecahan kaca dibola mata Anna, menancap hingga ke ulu hati. Sebuah kesakitan yang teramat sangat yang ia  rasa, air matanya kembali membasah, ketika Ayu menanyakan  tentang hubungan mereka dan siapkah Enni menerima “khitbah”  dari  Donny jika suatu saat nanti  Donny kembali mempertanyakan hal itu. Lalu bagaimanakah dengan hubungan persahabatan mereka yang telah terbangun sejak enam tahub silam?
“ jika suatu saat nanti donny datang mengkhitbahmu” apa kau siap tanya Ayu pada Enny

“ sebenarnya ini sama sama sakit yu, aku atau Anna”
“tapi Anna harus mengetahui semua  ini, karna Donny tidak mencintainya”.
Sementara Anna hanya memilih diam dan menundukan kepalanya. Jauh di lubuk hatiya ia juga tak pernah menginginkan semua ini terjadi, tapi rasa itu firtah dari Allah yang ia coba nikmati sekalipun getirnya tak mampu untuk diungkapkan.
“ I will be fine, udahlah yu...  Anna berusaha menutupi merangkul kepingan hatinya yang terasa remuk. Jika suatu saat memang ini bagin dari skenario Allah, Aku sudah ikhlas, dan aku akan baik baik saja.”
Mencoba menutupi hatinya yang entah tak tau kemana bagai terpental di titik terendah  antara jurang luka yang semakin dekat tanpa sekat waktu, kosong
Tak habis fikir  memang  dua sahabat yang saling menguatkan  antara satu sama lain, kini  terjerembab dalam problematika yang sama,  yaitu asmara. Dan karna cinta pula pengakuan terlarang itu ada.

Tak jauh dari kafe kamboja Anna dan ayu menuju mushola di pinggiran sungai kapuas itu,  dalam sujud panjangnya Anna berdoa semoga Allah menguatkan hatiny, meyakini rencana Allah yang terbaik, meski ia  kadang tak mengerti kenapa ia yang dihadapkan pada situasi rumit  antara 2 orang yang sangat ia sayangi bahkan lebih dari saudara, dan seseorang yang sudah lama mengisi hatinya, membuat ia sulit untuk pergi, meski ia sudah berusaha mengerahkan usaha terbaiknya, begitu lekat hatinya tentang pria itu. Seorang pria yang tiba tiba menyelip dalam  dalam fikirannya, menumbuhkan rasa dalam hatinya, hingga sulit untuk dipangkas. Kini Anna menncoba  menikmati  antara kesakitan kesakitan mencintai yang ia rasa,  atau hanya ketidakmengertian ia antara fitrah yang tuhan berikan, sebelum akhirnya menyematkan sabar yang tak berbatas, untuk tetap ikhlas menerima kenyataan yang ada.

 100 meter dari arah musholah, Anna menghentikan langkahnya menggenggam erat tangan Ayu, berusaha kuat, tapi butir bening membasahi kembali.
di gertak kayu mereka duduk berapa menit. Lalu ia berkata pada Ayu
“ yu, kuatkan aku yu
“aku ikhlas”
“ aku siap akan takdir Allah yang Berkerja”
Persahabatan itu benar benar di uji ketika Anna mendengar perkataan Enni sahabatnya tempat dimana ia selau berbagi kisah untuk setiap satu persatu hal yang membahagiakan atau  masalah yang ia hadapi dalam hidupnya, bahkan sampai tentang usaha Anna untuk survive melupakan pria bernama Donny  yang ia cintai selama  empat tahun terakhir
Hari semakin malam, meninggalkan senja di tepian sungai kapuas.
Ayu bergegas pulang terlebih dahulu karana harus menjemput mama .
 Beberapa menit kemudian, waktu magrib  akan segera tiba, Anna memutuskan untuk tetap tinggal di kafe kamboja, Enni memilih menemani meski saat itu iya sedang berhalangan untuk sholat. Enni menunggu Anna di  kafe kambodja ditepian sungai kapuas. Sembari menunggu azan, Anna hanya diam menikmati senja dengan  warna favorit serta cahaya yang berhamburan di atmosfir, melahirkan warna jingga dengan spektrum cahaya yang tampak, bahwa itu menandakan senja akan berganti malam, sebelum akhirnya memilih untuk bergegas kearah musolah.

Ba'da solat magrib, Anna  menuju kearah kafe duduk dan menghampiri Enni, mereka memilih lebih banyak diam  Menikmati kesakitan kesakitan akan pengakuan terlarang itu. Tak mudah memang menghadapi serentet pristiwa rumit dalam hidup antara cinta dan persahabatan. Namun,  Anna yakin setiap pristiwa ini atas Izinnya, sementara mereka hanya pelaku skenario yang telah Allah buat.
10 Januari 2017
Novi Diana


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.